Kata kunci Puasa Ramadhan dan Puasa Sunnah adalah "Jujur". Melalui Puasa, Allah SWT mengajarkan kita melatih kepekaan sosial juga dengan puasa melatih manusia untuk 'Jujur' kepada Allah SWT. Jika manusia jujur kepada Allah SWT, maka otomatis manusia akan jujur kepada diri sendiri, sesama individu manusia, sesama makhluk hidup dan lingkungan sekitar.
![[imagetag] https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5ObkIQWgYpAkS-zD7PZXWEZot4lJncKIKzL9TKFuQk6o6x4Od4-iOmV5a1focLtakCtwGxCUKZFtIofyqW3pk6Oc5p8eB8yJMRe9yS0EJS8cO0yQNCnllGoClzLudZ5oik8dQkUNwPX8/s320/1.jpg](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5ObkIQWgYpAkS-zD7PZXWEZot4lJncKIKzL9TKFuQk6o6x4Od4-iOmV5a1focLtakCtwGxCUKZFtIofyqW3pk6Oc5p8eB8yJMRe9yS0EJS8cO0yQNCnllGoClzLudZ5oik8dQkUNwPX8/s320/1.jpg)
Jadi untuk mengukur seorang individu manusia lulus dari pelatihan Puasa adalah ia berperilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari selama sebelas bulan ke depan. Kenapa jujur, karena yang benar benar mengetahui apakah kita puasa sungguh sungguh atau tidak hanyalah Allah dan diri kita sendiri, orang terdekatpun tidak ada yang mengetahuinya, andai saja diperjalanan ke kantor Anda diam-diam makan permen di jalan, atau kala tak ada siapapun Anda meneguk seteguk air karena kehausan, tidak seorangpun tau kecuali diri kita sendiri dan Allah.
Dengan kejujuran hidup kita lebih damai tentram dan dalam bahasa agama lebih berkah yaitu apa yang kita peroleh membawa kebahagiaan dan manfaat bukan kerusakan dan siksa bagi diri kita, mari kita ikuti cuplikan kisah berikut dari kejujuran seorang tukang tambal ban di kolong ibukota Jakarta yang penuh dengan kepalsuan dan manipulasi berikut ini :
Ya Allah, jadikanlah kami hamba yang Jujur. Amin![[imagetag] https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5ObkIQWgYpAkS-zD7PZXWEZot4lJncKIKzL9TKFuQk6o6x4Od4-iOmV5a1focLtakCtwGxCUKZFtIofyqW3pk6Oc5p8eB8yJMRe9yS0EJS8cO0yQNCnllGoClzLudZ5oik8dQkUNwPX8/s320/1.jpg](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5ObkIQWgYpAkS-zD7PZXWEZot4lJncKIKzL9TKFuQk6o6x4Od4-iOmV5a1focLtakCtwGxCUKZFtIofyqW3pk6Oc5p8eB8yJMRe9yS0EJS8cO0yQNCnllGoClzLudZ5oik8dQkUNwPX8/s320/1.jpg)
Jadi untuk mengukur seorang individu manusia lulus dari pelatihan Puasa adalah ia berperilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari selama sebelas bulan ke depan. Kenapa jujur, karena yang benar benar mengetahui apakah kita puasa sungguh sungguh atau tidak hanyalah Allah dan diri kita sendiri, orang terdekatpun tidak ada yang mengetahuinya, andai saja diperjalanan ke kantor Anda diam-diam makan permen di jalan, atau kala tak ada siapapun Anda meneguk seteguk air karena kehausan, tidak seorangpun tau kecuali diri kita sendiri dan Allah.
Dengan kejujuran hidup kita lebih damai tentram dan dalam bahasa agama lebih berkah yaitu apa yang kita peroleh membawa kebahagiaan dan manfaat bukan kerusakan dan siksa bagi diri kita, mari kita ikuti cuplikan kisah berikut dari kejujuran seorang tukang tambal ban di kolong ibukota Jakarta yang penuh dengan kepalsuan dan manipulasi berikut ini :
selain itu, menurut saya, puasa seseorang disebut berhasil andaikan dia:
1. sudah makin mampu mengendalikan hawa nafsunya
2. berperilaku ihsan (selalu merasakan kesertaan Allah dalam hidup dan kehidupannya).
sumber : http://ihsan-magazine.blogspot.com/2011/08/cara-mengukur-keberhasilan-puasa.html